Mengapa Tidak Terima Perbedaan?
Del.icio.us Digg Reddit Technorati Furl29-07-2008 10:57:21 AM - Pernak Pernik Perkawinan Campuran - Oleh Dr. Leila Mona Ganiem - Dilihat : 3776 kali
Rudi meminta Kim, isterinya, mengambilkan buku di kamar kerjanya. “Whe
dju yu put the book, ha?” Logat Inggris Singaporenya sangat kental.
Rudi yang hari itu kurang fit, makin tidak nyaman dengan logat Kim.
Mengabaikan kebutuhan membaca buku, membenahi logat Kim menjadi lebih
penting. Rudi menjelaskan pada Kim, bahwa bila Kim memang ingin
menggunakan bahasa Inggris, gunakan bahasa Inggris dengan benar,
seperti orang Inggris. Panjang lebar Rudi mengingatkan bahwa ketika
memilih bahasa, kita perlu konsisten. Tidak mengubah seperti yang kita
sukai. Rudi bahkan mengatakan sangat terganggu dengan logat bicara Kim
dan orang senegaranya. Jika Kim akan menggunakan bahasa Indonesia, Rudi
juga mempersilahkan, namun dengan cara penyampaian yang benar. Menurut
Rudi, dialek Kim terkesan “kampungan”.
Begitulah mereka melalui pagi itu. Kim terluka dan sangat kesal.
Menurut Kim, bahasa adalah kesepakatan. Keluarga dan lingkungannya di
Singapore sepakat dengan cara bicara seperti itu. Apa yang salah? Kim
juga membela diri dalam hatinya, bahwa orang Jawa Tengah juga kerap
bicara dengan logat-logat aneh ketika bicara bahasa Indonesia. Orang
Papua juga aneh bicaranya bagi telinga Kim. Kenapa Rudi tidak mau
terima? Hari itu dan beberapa hari berikutnya keduanya banyak diam.
Kekerasan psikis dan psikologis dapat terjadi dalam rumah tangga
lantaran ketidakmampuan dalam memahami keberagaman budaya. Rudi mungkin
tidak memahami bahwa Dialek adalah varian-varian sebuah bahasa yang
sama. Varian-varian ini berbeda satu sama lain, tetapi masih banyak
menunjukkan kemiripan sehingga belum pantas disebut bahasa yang
berbeda. Adanya perbedaan dialek biasanya karena geografi, namun bisa
berdasarkan faktor lain, misalkan faktor sosial. Di Indonesia saja, ada
sekitar 524 bahasa daerah atau dialek yang sangat berbeda.
Dalam suatu riset disimpulkan bahwa pembicara dengan dialek yang
sama dengan pendengarnya cenderung dianggap lebih kredibel, bahkan
orang akan lebih mau berubah dengan ajakannya. Prof. Rubba juga pernah
melakukan survey pada 208 responden. Hasilnya, 90 persen tidak nyaman
pada perbedaan dialek dari dialeknya. 68 persen terganggu dengan dialek
yang berbeda dari standar aslinya. John Edwards, author of Attitudes
towards Language Variation, menyatakan bahwa pembicara dengan dialek
tidak standar dianggap kurang kompeten dan kurang cerdas. Hal ini bukan
berdasarkan atas apa yang dikatakannya, melainkan pada bagaimana dia
mengatakannya.
Perasaan ketidaknyamanan diakibatkan oleh prasangka sosial pada
kelompok atau etnis lain. Ahli linguistik yang mempelajari status
sosial dari perbedaan dialek diberbagai negara menyimpulkan bahwa
dialek dari kelas yang tidak diharapkan, seperti orang kampung, etnis
yang tidak disukai, orang dari status sosial ekonomi yang lebih rendah
secara universal dianggap sebagai bentuk yang ”buruk” dari bahasa.
Sementara dialek dari orang perkotaan, kaya, berpendidikan lebih
tinggi, secara politik lebih kuat, dianggap sebagai bentuk dari bahasa
yang ”baik. Hal ini terjadi karena adanya persepsi superioritas atau
karena kurangnya pemahaman akan logika perubahan bahasa secara ilmiah.
Bahasa yang seseorang sampaikan tidak hanya sekedar “baik atau buruk”,
melainkan berkaitan dengan komunitas, keluarga dan identitas diri
seseorang. Mendiskreditkan bahasa seseorang sama dengan mendiskreditkan
budaya mereka.
Kesepakatan melangsungkan perkawinan antarbudaya mungkin tidak
mempertimbangkan hal ini diawalnya. Perbedaan yang terasa “indah dan
unik” menjadi “menjengkelkan” kemudian hari. Pemahaman logis yang
sempit akan proses berbahasa, superioritas atau cara pandang yang
merasa lebih baik, lebih tepat dan lebih benar, dapat mengganggu
hubungan dalam keluarga.
Rudi dan Kim, sebaiknya membuka diri, melakukan ”set mental pada
keberagaman” tidak hanya pada keberagaman dialek, gaya pemilihan
kalimat, melainkan beragam aspek perbedaan budaya lainnya. Pasangan
perkawinan antarbudaya, diharapkan saling bekerjasama, saling mengisi
dan saling mengapresiasi. Tanpa apresiasi dan kesadaran menerima
keberbedaan dan keragaman, kita semua akan terjebak dalam prasangka
yang berujung pada konflik dan segala bentuk disharmoni lainnya. Respek
adalah merasakan atau memperlihatkan hormat atau penghargaan. Namun
kitapun perlu menerima dengan sukarela. Sekali lagi, dialek adalah
privasi. Kemampuan menghargai bahasa dan dialek yang berbeda merupakan
hal penting dalam membina hubungan baik.
Penulis adalah peneliti perkawinan campuran dan Komunikasi Antarbudaya.





Komentar
06-09-2008 03:54:38 PM
"very good poin! may I know ur email add? I'd probably need to discuss things with you as an expert. I am married with a guy from different culturenon WNI..thanks n have a good day!"
«« [1] [2]
Silahkan isi formulir di bawah ini untuk berkomentar artikel ini: